Tuesday, 12 March 2013

Psychology at work





HRD. Kata yang sudah tidak asing lagi bukan? Mendengar kata tersebut saja, sudah langsung terbesit dalam pikiran kita tentang perusahaan, seleksi karyawan, ataupun recruitment.

     HRD memang berhubungan dengan ketiga hal di atas. Kebanyakan orang awam lebih mengenal kata HRD dibandingkan dengan PIO (Psikologi Industri dan Organisasi). PIO sendiri merupakan bidang psikologi yang mengkaji dan menerapkan psikolgi di ranah industri dan organisasi. HRD merupakan bagian dari PIO. HRD biasanya melakukan wawancara terhadap calon karyawan. Sebenarnya tujuan HRD melakukan wawancara itu apa sih? Jawabannya mudah dan masuk akal, yaitu untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai calon karyawan. Walaupun calon karyawan telah memberikan CV, namun wawancara akan sangat diperlukan untuk mengetahui calon karyawan tersebut berbohong atau tidak. 

Dalam wawancara sendiri, pewawancara dapat mengobservasi tingkah laku calon karyawan selama wawancara. Gestur tubuh, mimik, kontak mata, dan cara bicara dari calon karyawan. Hal-hal tersebut merupakan kelebihan wawancara dalam bidang PIO. Sedangkan, kekurangannya adalah saat pewawancara tidak mendengarkan dengan seksama jawaban dari calon karyawan. Saat pewawancara tidak jeli, maka pewawancara dapat dikelabui oleh cara karyawan. 


     Pengaplikasian wawancara dalam bidang PIO bukan hanya pada saat seleksi karyawan baru, tetapi juga dapat digunakan untuk promosi, rotasi, demosi, dan mutasi.  Permasalahan yang dihadapi saat wawancara adalah pelepasan emosional calon karyawan baru akan menghambat efisiensi waktu wawancara. Salah satu cara untuk menanganinya adalah dengan sabar menunggu calon karyawan tersebut bercerita. Selain itu, masalah lain yang tidak kalah menarik adalah saat rekan 1 tim HRD tidak sependapat untuk menerima calon karyawan yang menurut kita sesuai. Hal tersebut dapat dipahami karena dalam menyeleksi karyawan, kita bukan bekerja secara personal namun tim. Yang dapat dilakukan adalah rapat dengan tim HRD lainnya untuk menentukan keputusan yang terbaik.  
     Hallo effect juga merupakan masalah yang kerap kali terjadi dalam proses wawancara. Saat calon karyawan berpakian layaknya seorang eksekutif, tidak jarang pewawancara akan menganggap orang tersebut merupakan seseorang yang pintar, berwibawa, dan bekerja keras. Hal tersebut merupakan salah satu hallo effect yang terjadi. Menilai objektif akan sangat diperlukan dalam hal ini. Masalah terakhir yang dihadapi adalah saat karyawan baru yang sudah kita tempatkan di suatu divisi tidak menunjukkan performa kerja yang baik. Pemanggilan karyawan tersebut dan training akan sangat membantu permasalahan tersebut.
     Satu hal yang penting adalah kita tidak dapat hanya melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi. Melakukan wawancara, pemberian psikotes, dan observasi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal tersebut berguna agar keputusan yang kita ambil tidak salah atau meleset.

No comments:

Post a Comment